Minggu, 29 Mei 2016

Elegi Lelaki


Lelaki itu membangun rumah kacadari puing-puing janji yang dibawanyake kintamani, seperti dingin menjadisungai di mulutnya, membuatnya tenggelampada sepetak kesendirian, yang baginyaseluas mayapada.
Tak ada selamat tinggal atau sampai jumpauntuk kertas-kertas yang digantungnyadi tempat ia biasa menyepuh pena yang pernahjadi teman sematawayangnya.
Sesekali ia mengajak ingatanku naik pedati,berkeliling kota mati: tempat imajimenjelma khuldi.
Sesekali itu pula aku bisa jelasmelihatnya: lelaki itu selalu pura-pura terpejam,mengubur sebuah tambang emas di lehernya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar